Transportasi merupakan
satu di antara berbagai masalah yang selalu menghantui kota-kota besar dunia,
termasuk di Indonesia. Dampak urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di kota-kota
besar yang sangat cepat menuntut pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan transportasi
massal yang nyaman dan aman untuk beraktivitas.
Jakarta sebagai ibukota
Negara dan merupakan salah satu pusat bisnis penting di Asia Tenggara tak lepas
dari permasalahan kemacetan dan kondisi transportasi massal yang kurang
memadai. Hal ini terutama disebabkan karena terbatasnya jumlah angkutan massal
dan buruknya kondisi sarana dan prasarana transportasi. Sementara pertumbuhan
jalan-jalan di kota selalu tertinggal dibandingkan pertumbuhan penjualan
kendaraan bermotor. Sehari, bisa terdapat 5.500 hingga 6.000 kendaraan bermotor
baru meluncur di Jakarta menurut data Polda Metro Jaya. Pertumbuhannya mencapai
12 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan jalannya hanya 0,01 persen.
Bagaimana dengan masalah
transportasi di negara lain? Mari kita lihat sekilas negara Jepang. Mungkin saat
pertama kali kita mendengar kata “Jepang”, sudah pasti kita akan mengkaitkannya
dengan kata “rapih”, “maju”, “bersih”, dan sebagainya. Hal tersebut memang
tidak dapat di pungkiri lagi. Bahkan kita akan berpikir bahwa jalanan di Jepang
akan dibanjiri dengan kendaraan-kendaraan pribadi bermerek “Honda”, “Yamaha”, “Suzuki”,
“Kawasaki” , mengingat negara Jepang-lah yang memproduksi kendaraan-kendaraan
tersebut. Namun pada kenyataan hal tersebut tidak benar. Ya, sepertinya di Jepang
transportasi pribadi masih kalah banyaknya dengan transportasi umum.
Jika di Jakarta kita akan
melihat banyaknya motor-motor bersiap di belakang garis putih Traffic Light (kadang ada yang
lewat juga), namun di Tokyo yang banyak itu bukan motor ataupun kendaraan
pribadi melainkan pria-pria berjas gelap dan Office lady berpakaian rapih yang menanti lampu menyebrang zebra cross berwarna hijau. Bagaimana
dengan jalur mass trasportation berupa rel kereta api, dimana Jepang dinilai
termasuk negara dengan jalur paling padat dan sibuk di dunia? Di Jepang hampir kita
tidak akan menemukan adanya spot persilangan antara jalur mobil dan kereta yang
katanya super krodit itu. Site planning
pemerintah Jepang sangat sempurna dari rel-rel tersebut. Semua rel disana
berada di subway (bawah tanah)
ataupun fly over (jembatan layang).
Dengan kondisi
transportasi umum yang lebih banyak dibandingkan transportasi pribadi, apakah
ini menandakan masyarakat Jepang tidak mampu membeli kendaraan pribadi? Tentu tidak.
Masyarakat Jepang lebih memilih transportasi umum dikarenakan transportasi
publik tokyo mudah, murah, tepat waktu, aman, nyaman dan sangat manusiawi. Sedangkan
biaya perjalanan kendaraan pribadi di Tokyo itu lumayan mahal, bensin sekitar 16
ribuan per liter, parkir yang mahal dan sebagainya. Jepang juga menetapkan
peraturan gas buang yang benar-benar dilaksanakan. Kendaraan-kendaraan yang
tidak layak dipakai karena mobil-mobil lama kemungkinan sudah tidak lulus uji
emisi sehingga tidak lagi di ijinkan untuk dikendarai sehingga jalan-jalan di Jepang
begitu bersih dari asap.
Melihat masalah transportasi
di Jepang yang sangat memadai maka dalam rangka memenuhi kebutuhan transportasi
yang efektif dan efisien, pemerintah sedang membangun Mass Rapid Transit (MRT), yang sudah mulai dikerjakan sejak Jokowi
masih menjabat Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Terbatasnya lahan yang
tersedia di Jakarta, khususnya di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan,
mengakibatkan pembangunan rel bawah tanah untuk sebagian proyek MRT menjadi
solusi. “Saya kira semua kota-kota besar di seluruh dunia seperti itu,” ujar
Presiden. Namun, ada juga tujuan lain yang hendak dicapai pemerintah.
Pembangunan MRT di Jakarta, sebagai moda transportasi massal yang terintegrasi
dengan moda transportasi lainnya dan terkoneksi dengan pusat-pusat bisnis
diharapkan menginsipirasi pemerintah daerah, di sejumlah kota besar di
Indonesia, dalam membangun moda transportasi massal. Inspirasi ini penting
untuk menunjukkan bahwa transportasi massal modern yang nyaman dan dapat
diandalkan memang bisa diwujudkan di Indonesia – sebab bagaimanapun, lebih
mudah untuk mengerjakan sesuatu berdasarkan contoh ketimbang harus memulainya
dari awal.
Tapi dengan menggunakan
perspektif jangka panjang, maka keputusan untuk segera membangun MRT adalah
tepat. Setidaknya, agar pemerintah tidak terus menambah banyak tumpukan masalah
atau dampak buruk dari kemacetan, seperti polusi, stres dan hilangnya
waktu-waktu yang produktif dan berharga setiap harinya. “(Kalau) selalu
dihitung untung-ruginya, memang kalau (soal) profit tidak akan untung. Tapi
jangan mikir ke sana, pikir itu benefit-nya, untuk negara, untuk kota kita,”
kata Presiden sewaktu memantau perkembangan pembangunan MRT di Patung Pemuda
Senayan, Jakarta, pada Senin, 21 September 2015. Presiden berharap proyek MRT
bisa selesai seluruhnya 2-3 tahun mendatang. “Kita harapkan selesai
pengeborannya pada 2016 ini, seluruhnya. Terowongan sudah jadi,” kata Presiden.
Maka secara keseluruhan,
transportasi yang efektif, efisien dan manusiawi menurut saya adalah MRT
tersebut. Pemerintah telah cukup baik untuk membangun transportasi Indonesia
agar lebih maju. Tetapi MRT tersebut dapat dikatakan manusiawi apabila
masyarakatnya juga menghargai transportasi tersebut. Masyarakat Indonesia sudah
terbiasa hidup secara bermalas-malasan bahkan tidak dispilin dalam berkendara. Misalkan
saja pembuangan sampah di sekitar stasiun secara sembarangan, budaya “jam karet”
yang masih terus dijaga, kemalasan dalam berjalan kaki sehingga hanya dengan jarak
50 m mereka menggunakan kendaraan pribadi (motor), tidak ingin memutar dengan
jarak 200 m sehingga lebih memilih melawan arus yang tentunya akan membahayakan
nyawanya sendiri. Apalagi mindset masyarakat
dimana mobil atau motor merupakan “tanda” keberhasilan seseorang, sehingga
dalam suatu keluarga bisa memiliki kendaraan pribadi lebih dari 4! Memiliki transportasi
yang efisien itu semua tergantung mindset
yang dimiliki masyarakatnya. Diperlukan pola pikir yang benar, disiplin, dan
mau belajar dari negara lain untuk mewujdkan transportasi yang efektif, efisien
dan manusiawi.
Referensi:


Komentar
Posting Komentar