Langsung ke konten utama

Tulisan 4 : Transportasi Efektif, Efisien, dan Manusiawi

Transportasi merupakan satu di antara berbagai masalah yang selalu menghantui kota-kota besar dunia, termasuk di Indonesia. Dampak urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di kota-kota besar yang sangat cepat menuntut pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan transportasi massal yang nyaman dan aman untuk beraktivitas.
Jakarta sebagai ibukota Negara dan merupakan salah satu pusat bisnis penting di Asia Tenggara tak lepas dari permasalahan kemacetan dan kondisi transportasi massal yang kurang memadai. Hal ini terutama disebabkan karena terbatasnya jumlah angkutan massal dan buruknya kondisi sarana dan prasarana transportasi. Sementara pertumbuhan jalan-jalan di kota selalu tertinggal dibandingkan pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor. Sehari, bisa terdapat 5.500 hingga 6.000 kendaraan bermotor baru meluncur di Jakarta menurut data Polda Metro Jaya. Pertumbuhannya mencapai 12 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan jalannya hanya 0,01 persen.
Bagaimana dengan masalah transportasi di negara lain? Mari kita lihat sekilas negara Jepang. Mungkin saat pertama kali kita mendengar kata “Jepang”, sudah pasti kita akan mengkaitkannya dengan kata “rapih”, “maju”, “bersih”, dan sebagainya. Hal tersebut memang tidak dapat di pungkiri lagi. Bahkan kita akan berpikir bahwa jalanan di Jepang akan dibanjiri dengan kendaraan-kendaraan pribadi bermerek “Honda”, “Yamaha”, “Suzuki”, “Kawasaki” , mengingat negara Jepang-lah yang memproduksi kendaraan-kendaraan tersebut. Namun pada kenyataan hal tersebut tidak benar. Ya, sepertinya di Jepang transportasi pribadi masih kalah banyaknya dengan transportasi umum.


Jika di Jakarta kita akan melihat banyaknya motor-motor bersiap di belakang garis putih Traffic Light (kadang ada yang lewat juga), namun di Tokyo yang banyak itu bukan motor ataupun kendaraan pribadi melainkan pria-pria berjas gelap dan Office lady berpakaian rapih yang menanti lampu menyebrang zebra cross berwarna hijau. Bagaimana dengan jalur mass trasportation berupa rel kereta api, dimana Jepang dinilai termasuk negara dengan jalur paling padat dan sibuk di dunia? Di Jepang hampir kita tidak akan menemukan adanya spot persilangan antara jalur mobil dan kereta yang katanya super krodit itu. Site planning pemerintah Jepang sangat sempurna dari rel-rel tersebut. Semua rel disana berada di subway (bawah tanah) ataupun fly over (jembatan layang).


Dengan kondisi transportasi umum yang lebih banyak dibandingkan transportasi pribadi, apakah ini menandakan masyarakat Jepang tidak mampu membeli kendaraan pribadi? Tentu tidak. Masyarakat Jepang lebih memilih transportasi umum dikarenakan transportasi publik tokyo mudah, murah, tepat waktu, aman, nyaman dan sangat manusiawi. Sedangkan biaya perjalanan kendaraan pribadi di Tokyo itu lumayan mahal, bensin sekitar 16 ribuan per liter, parkir yang mahal dan sebagainya. Jepang juga menetapkan peraturan gas buang yang benar-benar dilaksanakan. Kendaraan-kendaraan yang tidak layak dipakai karena mobil-mobil lama kemungkinan sudah tidak lulus uji emisi sehingga tidak lagi di ijinkan untuk dikendarai sehingga jalan-jalan di Jepang begitu bersih dari asap.
Melihat masalah transportasi di Jepang yang sangat memadai maka dalam rangka memenuhi kebutuhan transportasi yang efektif dan efisien, pemerintah sedang membangun Mass Rapid Transit (MRT), yang sudah mulai dikerjakan sejak Jokowi masih menjabat Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Terbatasnya lahan yang tersedia di Jakarta, khususnya di wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, mengakibatkan pembangunan rel bawah tanah untuk sebagian proyek MRT menjadi solusi. “Saya kira semua kota-kota besar di seluruh dunia seperti itu,” ujar Presiden. Namun, ada juga tujuan lain yang hendak dicapai pemerintah. Pembangunan MRT di Jakarta, sebagai moda transportasi massal yang terintegrasi dengan moda transportasi lainnya dan terkoneksi dengan pusat-pusat bisnis diharapkan menginsipirasi pemerintah daerah, di sejumlah kota besar di Indonesia, dalam membangun moda transportasi massal. Inspirasi ini penting untuk menunjukkan bahwa transportasi massal modern yang nyaman dan dapat diandalkan memang bisa diwujudkan di Indonesia – sebab bagaimanapun, lebih mudah untuk mengerjakan sesuatu berdasarkan contoh ketimbang harus memulainya dari awal.


Tapi dengan menggunakan perspektif jangka panjang, maka keputusan untuk segera membangun MRT adalah tepat. Setidaknya, agar pemerintah tidak terus menambah banyak tumpukan masalah atau dampak buruk dari kemacetan, seperti polusi, stres dan hilangnya waktu-waktu yang produktif dan berharga setiap harinya. “(Kalau) selalu dihitung untung-ruginya, memang kalau (soal) profit tidak akan untung. Tapi jangan mikir ke sana, pikir itu benefit-nya, untuk negara, untuk kota kita,” kata Presiden sewaktu memantau perkembangan pembangunan MRT di Patung Pemuda Senayan, Jakarta, pada Senin, 21 September 2015. Presiden berharap proyek MRT bisa selesai seluruhnya 2-3 tahun mendatang. “Kita harapkan selesai pengeborannya pada 2016 ini, seluruhnya. Terowongan sudah jadi,” kata Presiden.
Maka secara keseluruhan, transportasi yang efektif, efisien dan manusiawi menurut saya adalah MRT tersebut. Pemerintah telah cukup baik untuk membangun transportasi Indonesia agar lebih maju. Tetapi MRT tersebut dapat dikatakan manusiawi apabila masyarakatnya juga menghargai transportasi tersebut. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa hidup secara bermalas-malasan bahkan tidak dispilin dalam berkendara. Misalkan saja pembuangan sampah di sekitar stasiun secara sembarangan, budaya “jam karet” yang masih terus dijaga, kemalasan dalam berjalan kaki sehingga hanya dengan jarak 50 m mereka menggunakan kendaraan pribadi (motor), tidak ingin memutar dengan jarak 200 m sehingga lebih memilih melawan arus yang tentunya akan membahayakan nyawanya sendiri. Apalagi mindset masyarakat dimana mobil atau motor merupakan “tanda” keberhasilan seseorang, sehingga dalam suatu keluarga bisa memiliki kendaraan pribadi lebih dari 4! Memiliki transportasi yang efisien itu semua tergantung mindset yang dimiliki masyarakatnya. Diperlukan pola pikir yang benar, disiplin, dan mau belajar dari negara lain untuk mewujdkan transportasi yang efektif, efisien dan manusiawi.


Referensi:




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan 3 : Makelar

Beberapa bulan ini Indonesia dihebohkan dengan kasus pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam rekaman pembicaraan mengenai saham PT Freeport Indonesia yang dilakukan oleh Ketua DPR Setya Novanto. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said, melaporkan Setya Novanto kepada Mahkamah Dewan Kehormatan DPR. Sudirman Said melaporkan bahwa Setya Novanto meminta jatah saham dan proyek pembangkit listrik dari PT Freeport Indonesia seraya mengatakan bahwa saham tersebut akan diberikan kepada presiden dan wakil presiden. Laporan Sudirman diantaranya berupa tiga lembar transkip pembicaraan antara Setya Novanto dengan pimpinan PT Freeport Indonesia di Pasific Place, Jakarta, pada tanggal 8 Juni 2015. Apa yang dimaksud dengan makelar? Apakah tindakan tersebut memiliki sisi positif atau negatif? Apakah yang dilakukan oleh Setya Novanto itu sudah benar? Beberapa hal tersebut yang akan saya bahas disini secara sederhana. Makelar adalah perantara yang ...

Tulisan 3 : Lagu Nasionalisme

Di sini rumah kita yang terindah di dunia Tanah yang merdeka, negeri Indonesia Karena ku tahu di sini ada cinta Yang kan ku jaga selamanya, selamanya, selamanya Tuk wujudkan cinta dengan janjiku bertekad selamanya Indonesia Kita adalah sayap-sayap sang garuda Di atas samudera di langit khatulistiwa Semoga namamu sampai ke ujung dunia Ceritakan semua indahnya pada mereka Karena ku tahu di sini ada cinta Yang kan ku jaga selamanya Karena ku tahu di sini tempat kita Di sini rumah bagi jiwa raga hati kita selamanya selamanya Tuk wujudkan mimpi kita dengan janjiku bertekad Selamanya selamanya selamanya selamanya Negeri Indonesia, negeri yang ku cinta Sebutkan namanya di langit dunia Negeri Indonesia, negeri yang ku cinta Harumkan namanya di langit dunia Negeri Indonesia, aku Indonesia Negeri Indonesia, aku Indonesia Itulah lirik lagu yang di nyanyikan oleh salah satu musisi muda Indonesia, yaitu TwentyFirst Night dengan judul Selamanya ...

Tulisan 1 : Kerajaan Larantuka

Kerajaan Larantuka termasuk kerajaan yang tua, berusia sekitar 700-an tahun. Sebuah sistem pemerintahan konon mulai dikenal masyarakat Larantuka sejak abad ke-13. Sistem pemerintahan ini berada di bawah tampuk kepemimpinan seorang raja. Pengaruh Majapahit tampak dalam susunan pemerintahan yang menyerupai struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan di Jawa teristimewa Mojopahit, terdiri dari Raja, Pou Suku Lema dan Kakang Lewo Pulo . Raja adalah pemegang kekuasaan pemerintahan tertinggi berintikan kekuasaan adat. Pou Suku Lema merupakan pou atau pu atau “Empu” yang lima. Pou merupakan dewan mahkota yang memegang peranan sebagai penasehat Raja, sekaligus menjalankan tugas-tugas eksekutif dan legislatif. Kakang merupakan raja-raja kecil, memerintahkan kekakangan masing-masing yang bersifat otonom. Ini diperkuat catatan sejarah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Saat itu, Larantuka diyakini sebagai salah satu wilayah kerajaan yang berhasil ditaklukkan serdadu Majapahit yang ...